Mungkin bila Anda menabung hingga terkumpul uang untuk membeli apartemen secara tunai, keinginan Anda ini akan sedikit sulit terwujud. Kenapa demikian? Ini karena jumlah tabungan yang Anda miliki tidak sebanding dengan harga apartemen yang selalu meningkat.

Salah satu solusinya, uang tabungan bisa Anda gunakan untuk membayar uang muka (DP) apartemen. Sedangkan sisanya bisa Anda bayar dengan cara mencicil ke pihak bank.

Memang, utang bisa jadi beban tambahan Anda. Tapi ini juga bergantung jenis utang apa yang Anda miliki. Untuk utang cicilan apartemen, bisa jadi ini akan jadi kemudahan Anda di masa mendatang. Ini tak lain karena harga apartemen yang Anda beli harganya terus meningkat, meski cicilannya belum lunas. Dan ketika cicilan sudah Anda lunasi sepenuhnya, pada 10, 15, atau 20 tahun kemudian, harga apartemen Anda bisa berlipat ganda melebihi harga ketika Anda membelinya.

Di situasi ini, utang tidak membuat Anda bertambah susah bukan? Nah, bila Anda berencana untuk membeli apartemen dengan berutang, perhatikan tips berutang yang nyaman dan sehat berikut ini:

Mau Beli Apartemen Tapi Takut Ngutang? Baca Ini Dulu!

Photo credit: nextgenrealty.com

Hindari berutang melebihi 30 persen dari penghasilan

Takar kemampuan keuangan Anda saat berutang agar tidak terjebak masalah utang nantinya. Yang perlu diingat, hindari berutang dengan jumlah yang melebihi 30 persen dari pemasukan Anda. Misalnya, bila penghasilan Anda dalam sebulan sebesar Rp. 10 juta, maksa besar total utang Anda adalah sebesar Rp. 3 juta. Jumlah ini sudah termasuk utang cicilan KPR, utang kartu kredit, serta utang lainnya.

Mau Beli Apartemen Tapi Takut Ngutang? Baca Ini Dulu!

Photo credit: movingtoanapartment.com

Tapi ada sebagian perencana keuangan yang merekomendasikan total utang sebesar 40 persen dari pemasukan. Tapi syaratnya utang yang Anda miliki adalah utang produktif, bukan utang konsumtif. Cicilan apartemen masuk kategori utang produktif karena diasumsikan harganya akan terus meningkat.

Kemungkinan besar Anda tidak akan menghadapi masalah selama mengikuti rasio utang pada prinsip 30 persen ini. Tapi sebaliknya, Anda bisa menghadapi masalah besar bila berutang melampaui jumlah ini.

Mau beli apartemen? Hindari utang konsumtif

Konsumtif di sini berarti dana habis digunakan dan tidak memiliki nilai investasi. Seperti ketika Anda berutang untuk membeli handphone mahal yang nilainya akan terus menurun dari waktu ke waktu.

Tapi utang handphone bisa juga masuk kategori utang produktif bila digunakan untuk mendukung peningkatan keuangan Anda. Misalnya handphone Anda gunakan untuk bekerja sehingga menambah penghasilan.

Baca artikel lainnya tentang tinggal di apartemen setelah menikah.

Hindari membayar utang dengan berutang lagi bila mau beli apartemen

Bila Anda tidak mengikuti aturan berutang maksimal 30 persen dari penghasilan, Anda akan menghadapi masalah keuangan dan dikejar debt collector atau penagih utang. Tentu ini akan membuat hidup Anda tidak tenang.

Akan menambah masalah bila Anda membayar tagihan utang dengan kembali berutang. Ini dikenal dengan istilah refinancing. Di satu sisi, langkah ini bisa jadi solusi yang tepat, selama perhitungannya cermat, misalnya Anda membayar utang lama dengan utang baru tapi dengan suku bunga lebih rendah.

Di lain sisi, membayar utang dengan berutang bisa jadi bumerang bila Anda salah perhitungan. Karena nantinya utang Anda akan semakin bertumpuk.

Segera lunasi utang saat tersedia dananya

Bila ada pemasukan tambahan, misalnya dari THR (Tunjangan Hari Raya), bonus tahunan, atau bonus kinerja, prioritaskan pemasukan tambahan ini untuk melunasi utang. Jangan gunakan seluruh bonus Anda untuk keperluan konsumtif seperti untuk berbelanja dan foya-foya.

Pemasukan tambahan yang Anda punya bisa Anda gunakan untuk mengurangi pokok utang. Ini untuk membantu mengurangi beban cicilan selanjutnya. Kesimpulannya, selama Anda berutang dengan mematuhi prinsip berutang, tak perlu takut berutang.

 

Anda mau beli apartemen di Jakarta? Temukan apartemen yang Anda cari dengan mudah dan cepat di Jendela360.