Dampak Pandemi Corona Pada Sektor Properti Tahun 2020

Membedah lebih lanjut efek, tantangan, dan peluang bisnis properti di saat pandemi Corona 2020

Di tahun 2020 ini, dunia dikejutkan dengan wabah virus Corona, yang melumpuhkan hampir semua lini kehidupan manusia. Virus ini menciptakan efek domino yang merugikan berbagai sektor, termasuk properti. Kapan pandemi ini berakhir?

Masih belum ada jawabannya. Yang pasti, wabah ini telah memberikan dampak serius terhadap pertumbuhan pasar properti lokal, maupun global. 

Note: Anda bisa langsung menuju ke bagian mana yang Anda ingin ketahui dengan cara mengecek langsung melalui daftar isi artikel dibawah ini, atau mulai membaca update berita properti ini dari bagian pertama bagi Anda yang ingin mengetahui secara keseluruhan tentang artikel ini.

DAFTAR ISI:

Atau simply gunakan “Ctrl+F” untuk menemukan informasi yang Anda cari.

#1. Hantaman Virus Corona Pada Industri Properti Global

#2. Dampak Pandemi Corona Pada Sektor Properti di Indonesia

#3. Pasar Properti di Tengah Pandemi Corona, Bagaimana Prospeknya?

#4. Menangkap Peluang Penjualan Ketika Pandemi Korona

#5. Tetap Berinvestasi Saat Pandemi

#1. Hantaman Virus Corona Pada Industri Properti Global

Sebagai salah satu perusahaan properti global, Airbnb merasakan betul dampak Covid-19 pada bisnis mereka. Melansir dari Business Insider Singapore, sudah sejak Januari tingkat pemesanan properti lewat Airbnb turun 96% di Beijing. Sedangkan di Roma dan Seoul, tingkat penurunannya mencapai 41% dan 46%. 

Sebenarnya jumlah listing yang ada di situs Airbnb bisa dikatakan stabil, namun tingkat permintaannya yang berkurang. Terutama pada negara-negara terdampak Corona. Pada bulan Januari hingga Maret saja, di Beijing terjadi penurunan angka booking dari yang sebelumnya 40.500 menjadi hanya 1.600. 

airbnb coronavirus 2020

Banyak faktor yang bisa menyebabkan penurunan jumlah ini. Diantaranya adalah kebijakan travel ban yang diberlakukan sejumlah negara. Tentu hal ini akan berdampak pada menurunnya tingkat wisatawan yang membutuhkan tempat singgah sementara. 

Baca juga: Meninggalkan Apartemen Saat Liburan Panjang? 7 Hal Ini Harus Anda Perhatikan

Faktor lainnya adalah pembatalan event-event besar. Hal ini mau tidak mau membuat permintaan akan properti untuk singgah di kota-kota besar juga berkurang. Misalnya, tahun lalu Airbnb masih dapat meraup omset hingga $16.1 juta atas penyewaan properti, sebab saat itu sedang berlangsung acara South By Southwest. Tahun ini, karena acara dibatalkan, Airbnb hanya mendapat $9.8 juta dari penyewaan properti di Austin, Texas. 

 

#2. Dampak Pandemi Corona Pada Sektor Properti di Indonesia

Sektor properti di Indonesia juga terkena dampak yang signifikan dari pandemi Covid-19. Menurut Ali Tranghanda, CEO dari Indonesia Property Watch, kondisi bisnis properti di Indonesia semakin hari makin mengkhawatirkan.

Jika pemerintah, pengembang dan konsumen tidak bekerjasama dalam menghadapi wabah ini, dikhawatirkan bisnis properti akan kolaps. 

a. Lesunya Industri Perhotelan

Usaha perhotelan adalah sektor properti yang terkena dampak paling mengkhawatirkan akibat virus Corona. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHPRI), Maulana Yusran, dilansir dari finance.detik mengatakan bulan April adalah bulan terakhir bagi pengusaha hotel untuk mendukung para karyawannya. Setelahnya kemungkinan tidak ada. 

hotel di jakarta untuk coronaKeterangan: Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sedang melakukan inspeksi di hotel yang disediakan khusus untuk tenaga medis

Masih menurut beliau, hotel dan restoran pada umumnya bergantung pada keuntungan year on year. Di tahun 2020 ini, mereka mengandalkan keuntungan di bulan Januari dan Februari untuk bertahan di bulan Maret dan April.

Jika diulur-ulur, mereka mungkin masih bisa bertahan sampai Mei. Setelah itu, mau tidak mau mereka akan menutup bisnis, karena jika tidak, akan ada biaya operasional yang harus dibayarkan. 

Akan tetapi, menurutnya, lesunya usaha hotel masih dapat diringankan dengan bantuan pemerintah. Bentuknya bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah meringankan pembayaran listrik, sehingga usaha hotel maupun restoran dapat menekan biaya operasionalnya. 

Baca juga: 9 Rekomendasi Hotel Murah Jakarta yang Cozy dan Mewah

b. Ancaman Pada Industri Sewa Perkantoran

Anjuran untuk bekerja di rumah tidak berdampak baik pada industri sewa perkantoran. Mengutip dari ekonomi.bisnis, JLL telah melaporkan penurunan pada utilisasi perkantoran, karena himbauan untuk bekerja jarak jauh (remote).

Untuk jangka pendek, hal ini akan berpengaruh terhadap harga sewa perkantoran. Termasuk untuk model ruang kerja kolaborasi seperti Coworking Space

Menurut Roddy Allan, Chief Research Officer dari JLL Asia Pacific, kondisi ini memicu tenant untuk membatalkan kontrak jangka pendeknya di Coworking Space.

Akan tetapi jika kontrak yang mereka tandatangani adalah jangka panjang, resiko ini mungkin tidak terlalu besar. Karena ketidakpastian ini, pemilik diharapkan mampu mengambil keputusan cepat untuk menangani tenant-tenant jangka panjang. 

Adanya anjuran untuk bekerja dari rumah ini kemungkinan juga akan membuat perubahan pada pengisian properti perkantoran. Sejumlah besar perusahaan multinasional bahkan sudah berencana untuk menyebar karyawannya yang dekat dengan tempat tinggalnya sampai wabah selesai. 

Baca juga: 9 Coworking Space di Jakarta Cocok untuk Startup hingga Mahasiswa

c. Pembayaran KPR yang Tersendat

Beralih ke sektor perumahan, pandemi Corona juga membawa dampak buruk pada penyaluran Kredit Kepemilikan Rumah (KPR). Pembayaran jadi macet karena sejumlah debitur mengalami penurunan pendapatan.

Dampak lebih jauh, menurut Endang Kawidjaja (Ketua Umum Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat) adalah sulitnya para debitur mendapatkan akses pembiayaan dari bank. 

Meskipun aktivitas jual beli rumah di lapangan masih ada, namun tren aktivitas pembelinya menurun. Pasalnya, saat ini rumah bukanlah prioritas masyarakat.

Terkait hal ini, pengembang, terlebih mereka yang mengembangkan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) telah meminta pemerintah dan perbankan untuk memberi keringanan cicilan.

Virus Corona juga telah menimbulkan dampak psikologis pada calon pembeli rumah maupun investor. Saat ini, mereka lebih memprioritaskan hal-hal lain yang lebih primer.

Menurut Direktur Utama PT Dafam Property Indonesia, Billy Dahlan, itulah yang membuat ruang gerak transaksi jual beli properti di Indonesia semakin sempit. 

 

#3. Pasar Properti di Tengah Pandemi Corona, Bagaimana Prospeknya?

Pandemi Corona memang sudah menghantam keras sektor properti di Indonesia, namun masih adakah prospek bagus bagi sektor ini kedepannya? Mengutip pendapat dari Marine Novita, Country Manager dari Rumah.com, saat ini, mungkin telah terbesit di pikiran sebagian orang untuk memiliki rumah ideal. 

Pasalnya, kebijakan pemerintah yang mengharuskan kita berada di rumah akan menciptakan pemikiran tentang pentingnya rumah dalam kehidupan sehari-hari.

Semakin lama bekerja di rumah, bayangan akan rumah ideal juga semakin terbentuk. Beberapa orang juga akan beranggapan untuk memiliki rumah nyaman yang dapat mendukung pekerjaannya dari rumah. 

Baca juga: Pembagian Komisi Sewa Rumah, Agen Properti Wajib Tahu

Rumah.com Indonesia Property Market Index Q1 2020 juga mencatat bahwa secara keseluruhan, tren pasar properti di tahun 2020 adalah menjadi buyer’s market. Dengan kata lain, momentum yang tepat bagi konsumen untuk memiliki properti. 

Sumber: Rumah.com

Virus Covid-19 memang telah berdampak negatif pada pertumbuhan sektor properti, namun pemerintah juga sudah menetapkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi hal ini. Diantaranya adalah subsidi sebesar Rp1,5 triliun untuk mempermudah masyarakat dalam membeli rumah. Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan, Eko Djoeli Heriepoerwanto. 

Pemerintah berharap masyarakat tidak mengurungkan niatnya ketika ingin membeli rumah. Dengan adanya stimulus ini, momentum pertumbuhan industri perumahan diharapkan kembali pulih, setelah lesu pada tahun politik 2019. 

Tidak hanya bagi konsumen, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan bagi pengembang. Adanya Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) untuk KPR bagi masyarakat berpenghasilan rendah diharapkan mampu meyakinkan pengembang untuk tetap menjalankan proyeknya. 

Sedangkan saat ini, langkah yang diambil pengembang adalah fokus pada proyek-proyek eksisting atau proyek berjalan. Di masa-masa krisis, perseroan cenderung mengambil langkah yang konservatif dalam mengembangkan proyek-proyek baru.

Yang dioptimalkan adalah penjualan dari inventori atau stok produk dari proyek berjalan. Mereka juga mulai mengeksplorasi segmen konsumen menengah ke bawah, yang notabenenya telah mendapat bantuan dari pemerintah. 

#4. Menangkap Peluang Penjualan Ketika Pandemi Korona

Serangan virus Corona telah memaksa pelaku usaha properti untuk memutar otak agar bisa mempertahankan bisnisnya. Berbagai strategi diterapkan untuk mendongkrak penjualan.

Salah satunya adalah meluncurkan program Move In Quickly yang diinisiasi oleh Sinar Mas Land. Program ini menawarkan kemudahan dan keringanan saat pembayaran, sehingga konsumen dapat langsung menghuni rumah di kala pandemi ini. 

Sumber: sinarmasland.com/moveinquickly

Produk-produk yang ditawarkan melalui program Move In Quickly adalah produk siap huni dan yang sedang dibangun. Promo-promo menarik yang dapat membantu pembeli keluar dari masa sulit Covid-19 pun dikeluarkan, seperti cashback BPHTB, diskon sebesar 20% untuk pembayaran tunai dan keringanan pembayaran sebesar 15% bagi pembeli yang menggunakan skema KPR. 

Periode promosi Move In Quickly berlangsung cukup panjang dan dibagi ke dalam tiga periode. Periode pertama dimulai dari tanggal 22 Maret hingga 30 Juni 2020. Selanjutnya berlangsung dari tanggal 1 Juli hingga 30 September 2020 dan terakhir mulai dari 1 Oktober sampai 31 Desember 2020. 

Selain menciptakan program terbaru, ada juga pelaku bisnis yang menawarkan promo besar-besaran kepada pembeli, sebagai respon dari wabah Covid-19 ini. Jakarta Garden City besutan PT Mitra Sindo Sukses adalah salah satu properti yang menerapkan cara ini.

Adapun salah satu promo yang cukup mencengangkan adalah diskon pembelian tanah kavling siap bangun hingga Rp800 jutaan. Seolah-olah konsumen membeli kavling tersebut, dan dari diskonnya bisa langsung membangun rumah. 

Lokasi kavlingnya-pun tidak main-main, ada di lokasi yang premium dan tersebar di beberapa klaster. Kavling yang dipasarkan dipatok dengan harga mulai dari Rp1 hingga Rp6 miliar per unitnya. Sedangkan untuk ukurannya sendiri mulai dari 75 m2 sampai 511 m2.  

#5. Tetap Berinvestasi Saat Pandemi

Apakah investasi properti masih relevan dilakukan di kala Corona? Justru sebaliknya, investasi properti kini telah menjadi safe haven di tengah anjloknya harga saham. Saham, begitu juga dengan reksadana tidak bisa diandalkan saat ini, karena termasuk sebagai investasi jangka pendek. 

Bagaimana dengan logam mulia? Sebenarnya masih menjanjikan untuk diinvestasikan, namun sekarang harga logam mulia sedang memuncak. Sehingga, investasi logam mulia di saat-saat seperti ini akan sangat memberatkan.

Baca juga: Investasi Properti atau yang Lain, Mana yang Saya Pilih?

Lain halnya dengan harga properti yang sedang tertahan. Ini malah menjadi momentum bagi investor untuk segera berinvestasi di sektor properti. 

Menurut Tedi Gusnawa, Marketing General Manager Podomoro Park Bandung, investasi di sektor properti dapat mendatangkan dua hal, yakni capital gain dan regular income.

Pemilik properti dapat menyewakan propertinya untuk memperoleh pemasukan rutin (regular income). Properti juga bisa dijual kembali dan selisihnya menjadi keuntungan dari pemilik (capital gain). Terlebih, properti sebagai aset produktif juga bisa dijadikan agunan atau jaminan pinjaman di bank. 

JENDELA360 BISA BANTU ANDA DALAM BERINVESTASI PROPERTI 

Masalahnya, di tengah wabah yang tidak menentu ini, bagaimana caranya mendapatkan regular income atau capital gain dari properti? Cara yang paling efektif adalah melalui platform digital, salah satunya Jendela360.

Di situs ini, penyewa tidak perlu bertemu dengan pemilik properti, karena semua urusan bisa dilakukan secara online

Fitur video tour 360 mengizinkan calon penyewa untuk dapat melihat-lihat properti Anda dari laptop atau komputer mereka. Kurang puas dengan hasilnya? Mereka bisa meminta showing online kepada advisor profesional di Jendela360 yang telah berpengalaman melayani pembeli, bahkan di kala wabah seperti sekarang.

Baca juga: Maksimalkan Virtual Tour 360 & Video Call Untuk Viewing Online

Jika penyewa/pembeli membutuhkan informasi lengkap terkait unit yang ingin dibeli/disewa, mereka bisa mendapatkannya di situs Jendela360. Informasi tertera lengkap dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Butuh informasi lebih lanjut? Penyewa/pembeli bisa menghubungi langsung customer service untuk lebih jelasnya. 

Keuntungan lain untuk penyewa/pembeli adalah mereka dapat menyewa/membeli properti secara kredit dengan cicilan hingga 12 kali. Fitur seperti ini tentu sangat meringankan mereka yang finansialnya goyah akibat virus Corona. Tanpa ragu lagi, mereka akan menyewa/membeli properti Anda.

Sebagai pemilik, Anda tidak perlu repot-repot memasarkan properti, karena semuanya sudah diurus oleh Jendela360. Mulai dari menjawab pertanyaan calon penyewa/pembeli, memfoto apartemen secara profesional hingga mengiklankan di marketplace premium, semuanya menjadi tanggung jawab Jendela360. Dengan kata lain, Anda hanya perlu menitipkan kunci dan terima beres. 

Lalu, dimana properti Anda akan dipasarkan? Pertama dan yang paling utama adalah lewat listing di Jendela360. Situs Jendela360 mendominasi pencarian di Google, terutama untuk pencarian apartemen. Di tengah wabah seperti ini, penyewa akan lebih banyak mencari hunian idaman mereka lewat Google. Tentunya ini bisa menjadi kesempatan emas bagi Anda dalam memasarkan properti. 

Selain itu, Jendela360 juga akan mengiklankan properti Anda di marketplace-marketplace premium. Dengan begitu, kemungkinan tersewa/terjualnya akan semakin cepat. Bahkan, rata-rata unit yang diiklankan di Jendela360 laku dalam 14-30 hari setelah pemasangan. Kabar baiknya, Anda tidak perlu membayar sepeserpun untuk jasa-jasa ini. 

Selanjutnya, apa yang terjadi jika seseorang membeli/menyewa properti saya? Yang pasti, di saat wabah seperti ini Anda tidak dianjurkan untuk bertemu langsung dengan mereka. Oleh karena itu, Jendela360 memberikan jalan keluar lewat fitur Docusign. Dengan fitur ini, Anda tidak perlu tatap muka langsung dengan penyewa/pembeli, semua dikerjakan secara online

Wabah Covid-19 memang telah mengguncang sektor properti. Akan tetapi, Anda tetap bisa memanfaatkan celah sambil menunggu keadaan membaik. Menyewakan dan menjual properti secara online adalah cara paling efektif yang bisa dilakukan saat ini.

 

TITIPKAN UNIT APARTEMEN ANDA SEKARANG

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *