Daftar Isi:
Tren Properti Gen Z — Perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi membuat pasar properti ikut mengalami pergeseran, terutama sejak Generasi Z mulai memasuki usia produktif. Kelompok ini tidak hanya menjadi calon pembeli rumah, tetapi juga membawa cara pandang baru dalam memilih hunian yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai hidup mereka.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, tren properti Gen Z lebih menekankan keseimbangan antara fungsi, estetika, dan fleksibilitas. Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal saja, melainkan ruang untuk bekerja, beristirahat, hingga mengekspresikan diri, terlebih dengan adanya kebiasaan kerja dari rumah. Hal inilah yang membuat preferensi mereka terhadap hunian terlihat cukup unik dan lebih selektif.
Lalu, bagaimana tren hunian yang kini disukai oleh Gen Z? Apa saja alasan di balik perubahan perilaku membeli properti? Dan mengapa beberapa Gen Z bahkan memilih untuk tidak membeli rumah? Simak penjelasannya berikut ini!
Siapa Itu Generasi Z dan Mengapa Penting bagi Pasar Properti?
Generasi Z adalah kelompok yang lahir di kisaran akhir 1990-an hingga awal 2010-an. Saat ini, sebagian besar dari mereka sudah mulai bekerja, membangun karier, dan mempertimbangkan hunian pertama. Dengan jumlah populasi yang besar, Gen Z menjadi target utama pengembang properti dalam beberapa tahun ke depan.
Tidak seperti generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh bersama teknologi digital. Akses informasi yang cepat membuat mereka lebih kritis, membandingkan banyak opsi sebelum mengambil keputusan, termasuk saat memilih rumah. Inilah yang mendorong munculnya tren properti baru yang menyesuaikan dengan pola pikir dan gaya hidup mereka.
Tren Properti Gen Z yang Paling Diminati Saat Ini

(Sumber: freepik)
1. Desain Minimalis dan Fungsional
Salah satu ciri utama tren properti Gen Z adalah ketertarikan pada desain minimalis. Hunian dengan tampilan sederhana, rapi, dan fungsional dianggap lebih relevan dengan gaya hidup modern. Ruang yang efisien memudahkan perawatan sekaligus memberikan kesan luas meski di lahan terbatas.
Selain estetika, desain minimalis juga dinilai lebih fleksibel. Tata ruang yang terbuka memungkinkan penghuni menyesuaikan fungsi ruangan sesuai kebutuhan, baik sebagai ruang kerja, ruang keluarga, maupun area bersantai.
Anda mungkin juga suka: 10 Tips Menata Ruang Kerja Pribadi di Rumah agar Produktif
2. Hunian dengan Teknologi Smart Home
Teknologi menjadi bagian penting dalam beli rumah ala Generasi Z. Fitur smart home seperti kunci digital, CCTV, pengaturan lampu otomatis, hingga sistem keamanan pintar menjadi nilai tambah yang signifikan. Hunian tidak hanya nyaman, tetapi juga praktis dan aman.
Ketersediaan jaringan internet yang stabil juga menjadi pertimbangan utama. Banyak Gen Z membutuhkan rumah yang mendukung sistem kerja hybrid atau work from home sehingga konektivitas menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
3. Lokasi Strategis dan Akses Mudah
Bagi Gen Z, lokasi sering kali lebih penting daripada ukuran bangunan. Hunian yang dekat dengan sarana transportasi umum, pusat aktivitas, tempat kerja, dan fasilitas publik lebih diminati karena menunjang mobilitas sehari-hari.
Lingkungan yang aman, tenang, dan memiliki akses yang baik menjadi pertimbangan jangka panjang, terutama bagi pasangan muda dan keluarga yang mulai memikirkan kenyamanan hidup.
4. Hunian Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan
Kesadaran terhadap isu lingkungan turut memengaruhi tren properti Gen Z. Hunian dengan pencahayaan alami, sirkulasi udara baik, serta konsep hemat energi dianggap lebih ideal. Selain ramah lingkungan, konsep ini juga membantu mengurangi biaya jangka panjang.
Gen Z cenderung tertarik pada properti yang mendukung gaya hidup berkelanjutan dan memiliki dampak positif bagi lingkungan sekitar.
5. Ruang Fleksibel untuk Berbagai Aktivitas
Rumah bagi Gen Z bukan hanya tempat tidur dan istirahat. Ruang multifungsi yang bisa digunakan untuk bekerja, berolahraga, atau menjalankan hobi menjadi nilai tambah.
Terlebih lagi, kini budaya kerja dari rumah masih dijalankan meskipun pandemi sudah usai. Rumah yang nyaman untuk produktif bekerja pun jadi perhatian utama bagi Gen Z. Fleksibilitas ini membuat hunian lebih relevan dengan dinamika kehidupan modern.
Cara Gen Z Mencari dan Memilih Rumah

(Sumber: mashvisor.com)
1. Mulai dari Pencarian Online
Bagi Generation Z, proses mencari rumah hampir selalu dimulai secara digital. Mereka terbiasa melakukan riset melalui website properti, media sosial, hingga konten video sebelum tertarik pada suatu hunian. Aktivitas “scrolling” ini membantu Anda mendapatkan gambaran awal mengenai desain rumah, kisaran harga, lokasi, serta fasilitas yang ditawarkan tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Pola ini menunjukkan bahwa tren properti Gen Z sangat dipengaruhi oleh visual dan kemudahan akses informasi. Foto hingga fitur kamera 360 yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai properti yang diincar menjadi point plus. Tidak heran jika website properti profesional seperti Jendela360 dilengkapi dengan fitur yang lebih lengkap dan canggih.
Jika informasi yang ditampilkan relevan dan sesuai kebutuhan, barulah Generation Z melanjutkan ke tahap berikutnya.
2. Membandingkan Banyak Opsi Sebelum Mengambil Keputusan
Setelah menemukan beberapa pilihan, Generation Z cenderung membandingkan berbagai aspek secara detail. Harga, lokasi, desain, akses transportasi, hingga fasilitas lingkungan akan dipertimbangkan secara menyeluruh. Proses ini membuat generation Z beli rumah dengan pendekatan yang lebih rasional dan terukur.
Dengan membandingkan banyak opsi, Anda dapat menilai nilai yang ditawarkan oleh sebuah properti, bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga manfaat jangka panjang. Inilah yang membedakan beli rumah ala generasi Z dengan cara konvensional yang cenderung lebih cepat dan emosional.
3. Survei Langsung Setelah Riset Matang
Meskipun proses awal dilakukan secara online, survei langsung tetap menjadi tahap penting. Generation Z biasanya datang ke lokasi setelah memiliki cukup informasi dan shortlist pilihan. Hal ini membuat kunjungan lebih efisien karena fokus pada properti yang benar-benar sesuai dengan kriteria.
Pada tahap ini, Anda akan menilai kondisi lingkungan, akses jalan, suasana sekitar, serta kecocokan rumah dengan kebutuhan sehari-hari. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak impulsif, melainkan mengutamakan kesiapan sebelum mengambil keputusan besar.
Baca juga: Harus Teliti! 13 Hal yang Harus Diperhatikan saat Survei Rumah
4. Menilai Rumah dari Sisi Fungsi dan Gaya Hidup
Generation Z tidak hanya melihat rumah sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang untuk mendukung gaya hidup. Tata ruang yang fleksibel, pencahayaan alami, serta kemungkinan penggunaan ruangan untuk bekerja atau beraktivitas menjadi pertimbangan penting.
Hal ini berkaitan erat dengan perubahan pola hidup modern, di mana rumah sering difungsikan sebagai ruang kerja, tempat berkumpul, dan area istirahat sekaligus. Karena itu, rumah yang mampu beradaptasi dengan berbagai kebutuhan lebih menarik bagi Generation Z.
5. Mempertimbangkan Nilai Jangka Panjang, Bukan Sekadar Harga
Meski harga tetap menjadi faktor penting, Generation Z tidak hanya terpaku pada nominal. Mereka juga mempertimbangkan potensi jangka panjang, seperti kenyamanan, keamanan, dan kemudahan akses di masa depan. Pendekatan ini menjawab pertanyaan kenapa Gen Z tidak mau beli rumah secara terburu-buru.
Dengan mempertimbangkan banyak aspek, Generation Z berusaha memastikan bahwa rumah yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan hidup mereka saat ini dan ke depannya. Inilah alasan mengapa proses mencari dan memilih rumah dilakukan dengan lebih hati-hati dan terencana.
Kenapa Gen Z Tidak Mau Beli Rumah?

(Sumber: verandaseveredas.pt)
Sebenarnya, pernyataan bahwa Generasi Z tidak mau beli rumah kurang tepat. Gen Z bukannya tidak ingin memiliki huniannya sendiri. Akan tetapi, kebutuhan finansial lain yang lebih mendesak dan pendapatan bulanan yang kurang dari batas upah minimum menjadi kendala besar bagi generasi ini. Belum lagi, harga properti tiap tahunnya semakin meningkat. Beberapa alasan yang menjadi penyebab Generasi Z menunda untuk membeli rumah adalah sebagai berikut.
1. Harga Properti yang Semakin Tidak Terjangkau
Salah satu alasan utama kenapa Gen Z tidak mau beli rumah adalah harga properti yang terus meningkat, terutama di kawasan perkotaan. Kenaikan harga rumah sering kali tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan sehingga kepemilikan rumah terasa semakin sulit dijangkau oleh anak muda dan pasangan muda.
Kondisi ini membuat Generation Z lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan besar. Alih-alih terburu-buru membeli rumah, Anda cenderung mempertimbangkan kesiapan finansial secara matang agar tidak terbebani cicilan dalam jangka panjang.
2. Uang Muka dan Skema KPR yang Memberatkan
Selain harga, besarnya uang muka dan ketentuan KPR menjadi tantangan tersendiri. Skema pembiayaan konvensional sering kali mensyaratkan DP yang cukup besar serta proses administrasi yang tidak sederhana. Hal ini membuat banyak Gen Z merasa belum siap untuk masuk ke komitmen finansial jangka panjang.
Bagi Generation Z, fleksibilitas menjadi hal yang penting. Skema pembiayaan yang kaku dan kurang adaptif dianggap tidak sejalan dengan kondisi keuangan yang masih fluktuatif, terutama di awal karier.
3. Perubahan Prioritas Keuangan dan Gaya Hidup
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generation Z memiliki prioritas keuangan yang lebih beragam. Pengembangan diri, pendidikan, dan pengalaman hidup sering kali ditempatkan sejajar atau bahkan lebih tinggi daripada kepemilikan rumah. Inilah yang membuat beli rumah ala generasi Z tidak selalu menjadi tujuan utama dalam waktu dekat.
Rumah tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya simbol kesuksesan. Anda lebih fokus pada keseimbangan hidup dan kebebasan finansial sebelum memutuskan untuk membeli properti secara permanen.
4. Kurangnya Edukasi dan Perencanaan Finansial Properti
Banyak Gen Z merasa belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai perencanaan keuangan dan investasi properti. Kurangnya edukasi ini membuat keputusan membeli rumah terasa berisiko, terutama jika dilakukan tanpa perhitungan matang.
Karena itu, sebagian Generation Z memilih menunda pembelian rumah sambil mempersiapkan diri secara finansial. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sikap hati-hati bukan berarti menolak properti, melainkan mencari waktu dan cara yang lebih tepat sesuai dengan tren properti Gen Z.
Anda mungkin juga suka: 11 Cara Menabung untuk Beli Rumah, Gen Z Juga Bisa!
5. Munculnya Alternatif Hunian yang Lebih Fleksibel
Pilihan hunian seperti menyewa, co-living, atau tinggal di apartemen jangka pendek menawarkan fleksibilitas yang lebih besar. Alternatif ini memungkinkan Gen Z untuk menyesuaikan tempat tinggal dengan kondisi pekerjaan, lokasi, dan kemampuan finansial yang dinamis.
Dengan banyaknya pilihan tersebut, membeli rumah dengan cara lama tidak lagi menjadi satu-satunya solusi. Generasi Z cenderung memilih hunian yang mendukung mobilitas dan perubahan fase hidup tanpa beban jangka panjang.
Nah, jika Anda salah satu Gen Z yang ingin mencari hunian yang lebih fleksibel, Anda bisa sewa apartemen melalui Jendela360.
Jendela360 merupakan situs sewa apartemen yang telah terpercaya dengan puluhan ribu unit apartemen berkualitas di kota-kota besar Indonesia.
Jendela360 memiliki fitur virtual tour menggunakan kamera 360 yang dapat membantu melihat apartemen secara lebih detail dan memudahkan proses pencarian apartemen Anda.
Seluruh transaksi Anda dengan Jendela360 juga terjamin aman tanpa adanya hidden fees karena dilakukan secara transparan.
Anda juga bisa dengan mudah menemukan rekomendasi apartemen Jakarta Selatan, apartemen Jakarta Barat, apartemen Jakarta Pusat, dan kota-kota lainnya dengan Jendela360.
Kunjungi website Jendela360 atau hubungi customer service kami untuk informasi lebih lanjut!
Riana adalah seorang SEO writer dan copywriter di Jendela360. Riana memiliki pengalaman selama 3 tahun, khususnya dalam bidang properti dan gaya hidup. Dalam menulis, Riana percaya bahwa konten yang berorientasi pada autentisitas adalah kunci dalam menciptakan sebuah tulisan yang lebih berkualitas. Di waktu luang, Riana senang membaca buku untuk terus memperluas wawasan dan memperkaya inspirasinya dalam menulis.



